Enough

Bukan.

Tulisan ini bukan akan menjadi sebuah racau ketidakpuasan atau kemarahan atau pernyataan kesal.

It’s enough, not ENOUGH!

Cukup.

Berapa banyak artikel atau kata-kata mutiara atau quotes sering disebutnya, yang telah kita baca demi meyakinkan diri sendiri bahwa apa yang kita miliki dan sudah nikmati sekarang sudah, cukup?

Well, untuk manusia yang selalu mendapat nasehat dan peringatan untuk bersyukur, rentetan kata-kata ala motivator tentu menjadi satu penguatan untuk saya.

Dimulai dari “kamu bangun pagi ini, itu sudah berkat, syukuri itu”, sampai gambar-gambar kondisi menyedihkan sesama manusia di belahan negeri lain yang terkena perang atau bencana kelaparan.

Yeah, typical.

Metode membandingkan kesengsaraan kita dengan orang lain ternyata cukup ampuh untuk membuat rasa syukur membuncah perlahan-lahan dari dada.

Malu memang, kenapa komparasi diri dengan sekitar harus dilakukan agar ada pernyataan terima kasih dan membuat diri lebih “legowo” menerima kenyataan.

Rasa-rasanya, apapun yang sudah didapatkan tidak pernah cukup, selalu kurang, selalu tidak bisa memenuhi keinginan yang terpatri di hati.

Waktu saya SMP, guru ekonomi memberi ilustrasi tentang motif ekonomi.

Si A adalah seorang pemuda yang baru mendapat pekerjaan. Dia ingin punya sepeda untuk lebih memudahkannya berangkat ke kantor. Dia pun menabung dan berhasil beli sepeda.

Senang sekali hatinya saat itu. Namun, melihat bosnya memakai sepeda motor, timbul lagi keinginan untuk membeli sepeda motor. Padahal sebelumnya A telah merasa puas dengan sepedanya yang mampu membuat dia sampai ke kantor lebih cepat dibandingkan berjalan. Singkat kata, dia pun kembali menabung dan akhirnya beli motor.

Jaman berkembang dan orang-orang mulai memakai mobil. Dia menabung dan berhasil lagi beli mobil. Berbagai merek mobil semakin banyak dan A pun kembali berpikir untuk berganti mobil.

Manusia memang pada dasarnya tidak akan pernah puas dan itulah yang mendorong manusia melakukan tindakan ekonomi atau disebut motif ekonomi.

Hingga kini saya sudah lulus kuliah, penjelasan beliau ini tetap menempel di kepala saya.

Bagian yang sangat terngiang jelas adalah MANUSIA TIDAK AKAN PERNAH PUAS.

Sewaktu SMP, jelas saya hanya terkejut dengan realita itu dan tidak berpikir itu relevan dengan saya sebab kegiatan ekonomi apa sih yang saya lakukan?

Paling jajan, jalan ke mall, beli komik dan novel, sudah.

Bila dipikir kembali, saya saat itu masih individu yang merasa cukup dengan kehidupan yang diberikan oleh orang tua saya. Ke sekolah jajan cukup, minta uang untuk jalan ke mall dikasih cukup untuk nonton bioskop dan makan, ke gramedia pun aku selalu bisa menyelipkan komik atau novel asal beli buku pelajaran, hehe.

Satu hal yang membuat saya mulai merasa “tidak cukup” adalah ketika mulai kelas 2 hingga 3 SMP, hp saya masih kuno dibandingkan teman saya. Orangtua memang tidak mengenalkan saya dengan teknologi, yang hingga kini saya tidak mengerti sama sekali bagaimana caranya bermain PS, haha. HP saya saat itu pokoknya sudah saya anggap keren karena akhirnya dibelikan HP berkamera 1.3 MP dan mempunyai memori eksternal up to 2GB.

Saya ingat betapa senangnya saya dengan HP itu dan langsung saja saya membeli paketan mp3 untuk dimasukkan ke memory card dan headset-an kemana-mana.

Ingat sekali, ada teman yang punya HP canggih saat itu dan mengatai punya saya yang biasa saja. Tapi emang saya manusianya bodo amat kelas dewa, saya tidak peduli, yang penting bisa dengar musik dan terlihat keren di angkot dengan headset di kuping.

Ahh, masa-masa menyenangkan dimana saya adalah manusia yang bisa merasa content dan feel enough dengan apa yang diberikan orang tua saya

>>>>>> fast forward kembali ke masa ini >>>>>>>>>

Setiap bulan saya mendapatkan uang bulanan dari orang tua, tapi entah kenapa uang ini tidak pernah terasa cukup.

Memang, semakin dewasa, semakin banyak kebutuhan yang kita perlukan dan pikir kita butuhkan.

Bayangkan saja, saya berpikir bahwa makan di luar bersama teman dan mengunjungi tempat makan baru dan terkenal wajib hukumnya.

Saya berpikir bahwa perawatan wajah saya harus dari merek mahal agar kulit saya terlihat lebih baik.

Saya berpikir bahwa jalan-jalan ke tempat eksotis dan memamerkannya di media sosial adalah alat pelepas penat yang paling ampuh.

Saya berpikir bahwa uang yang saya miliki tidak akan pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan saya yang buanyakk itu.

Saya mulai sulit merasa cukup dengan keadaan saya sekarang. Ya, saya bangun dan bisa bernafas hari ini, terima kasih Tuhan, tapi aku butuh hal lain juga.

Makan dan ongkos? Uang kosan bulan depan? Belanja bulanan?

Baru saja menerima uang bulanan namun hampir setengah lenyap dalam sekejap.

Sampai saya menuliskan ini, saya bertanya-tanya dalam hati, sampai saya berada di titik seperti apa baru kecukupan itu nyata rasanya?

 

Jakarta, 18 Mei 2016

Rin- celoteh.inang

 

 

Ekspektasi

Banyak hal yang terjadi sangat cepat rasanya di kehidupanku dimulai saat ada satu gelar akademis yang resmi bertengger manis di belakang nama asliku.

6 Februari 2016, aku dinyatakan lulus dari sebuah universitas negri yang cukup disegani oleh masyarakat sekitar, haha.

Banyak ekspektasi keluarga dan teman yang tiba-tiba harus kupenuhi sesegera mungkin agar tidak dicap sebagai individu gagal.

Mungkin itu berasal dari pikiranku sendiri, tetapi kau tahu pasti makna dari tiap raut dan ekspresi wajah orang lain ketika kau menjawab pertanyaan mereka dengan gelengan kepala dan senyum simpul yang ku gariskan secara paksa dengan bibir ini.

Awal kelulusanku masih terasa menyenangkan ketika euforia mencari kebaya, kain, berdandan ria, serta pesan singkat dari teman jauh menghiasi layar handphone mengucapkan selamat atas keberhasilanku menyelesaikan studi.

Pelukan hangat mamak dan bapakku, teman-teman terdekat, bunga dan hadiah-hadiah menghangatkan badanku ditengah-tengah dinginnya hujan badai yang menyelimuti jalannya acara wisuda. Tawa dan canda gurau serta janji untuk menyambangi hajat wisuda temanku yang akan lulus nanti pun senantiasa meluncur dari mulut ini.

Hari-hari selanjutnya pun belum membuatku merasa penat akan ekspektasi karena saat itu aku masih magang di satu start-up company dan merasa hidupku lebih baik daripada teman-teman yang langsung berstatus pengangguran, hehe.

Sampai hari magang terakhirku pun datang dan aku memutuskan untuk tidak lanjut di tempat tersebut, demi memenuhi ambisi pribadi menembus big company. Orangtuaku pun tentu berharap aku segera mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar dan aku akan melakukan apapun untuk melihat mamakku bangga kepadaku.

Ohya, asal kalian tau, mamaku hanya memiliki aku saja (well, aku punya 6 kakak dan 2 abang tapi berbeda ibu). Biasanya, seorang ibu akan sangat protektif kepada anak perempuannya, namun ibu satu ini dengan percayanya membiarkan anak perempuan berusia 18 tahun untuk pergi kuliah merantau. She’s cool, ryt? :p

Kembali ke cerita, perburuan pekerjaan pun dimulai. Setiap ada informasi job fair dan posisi dengan rekrutmen terbuka pasti akan kucoba. Tapi, aku cukup selektif dalam memilih perusahaan tempat aku akan berkarya nantinya. Hiih, sombong sekali si pengangguran satu ini, mungkin pikir kalian. Namun aku punya alasan tersendiri menjadi pribadi yang seperti ini.

Stan rokok tentu saja kujauhi, stan otomotif juga. Perusahaan yang tak kutahu pasti apa produknya juga tidak kulamar. Aku mengincar perusahaan dengan produk yang kuanggap baik dan mempunyai value atau yang kutahu punya program kemanusiaan yang baik juga.

Yayaya, kau bisa mencapku idealis tak berguna sekarang, terserahmu. Aku tidak peduli.

Beberapa perusahaan memanggilku untuk mengikuti psikotes dan interview, dan sering sekali langkahku terjegal disini. Menangis? Malu? Yes.

Saya selalu berpikir, baru langkah awal saja sudah tidak lolos. Am i good in anything?

Kecewa, sedih, marah, capek, semua kumpul jadi satu. Melihat update teman yang sudah bekerja semakin menambah rasa kesal yang ada. Terutama lagi karena saya tahu kisaran gaji yang berhasil didapatkan teman saya.

Kenapa saya kesal juga karena tau gaji mereka? Karena saya sedang sangat kesulitan ekonomi. Per kelulusan saya, saya sudah tidak mendapat bulanan tetap yang biasa dikirimkan. Hanya ibu saya yang berbaik hati mengirimkan saya uang untuk bisa bertahan hidup.

Saya jengah berada di kosan terus menerus. Sering sekali saya menanyakan jadwal dan keberadaan teman dekat yang mungkin sedang kosong untuk mengajak mereka ke coffee shop atau internetan di kampus. Terkadang, saya pergi ke rumah kami di Bandung untuk berganti suasana dan bertemu dua kakak saya.

Hampir dua bulan ritme hidup saya tidak berganti. Setiap bangun siang, i mind you, tidak bangun pagi lah karena ngapain juga, hahaha. Setiap bangun, saya hanya menatap kosong langit-langit kamar karena tidak tahu mau mengerjakan apa hari itu. Saya sudah sampai di titik “ngapain ya saya bangun, gak ada gunanya”, hahaha.

Yes, i’m almost that desperate.

Terkadang, beberapa teman meminta bantuan atau minta ditemani. Saya iyakan saja semua agar setidaknya saya mempunyai guna daripada tidur-tidur menggendutkan badan di kosan. Saya juga memulai satu project dengan satu teman dekat dan acap kali mengadakan pertemuan untuk membicarakannya.

Bila ada panggilan tes, saya pergi, kerjakan, dan kecewa, karena lagi-lagi belum berhasil. Ada yang berhasil melewati interview dan dijanjikan diberi kabar sampai dua minggu, nyatanya tidak ada juga.

Hingga akhirnya saya mengarahkan pandangan ke perusahaan agensi atau konsultan yang infonya sering diedarkan di grup teman-teman kampus. Sebelumnya, aku ingin fokus ke perusahaan yang kunilai akan mendapat nilai baik di mata orangtuaku bila aku berhasil masuk ke dalamnya.

Tapi, aku tidak bisa lebih lama lagi menjadi tidak berguna dan hanya menghabiskan uang.

Satu perusahaan konsultan pun memanggil saya untuk menjalani psikotes dan tes Bahasa Inggris. Saya mengerjakannya, lalu ternyata saya dipanggil untuk interview. Saat itu, saya mendapat “tantangan” yaitu kalau saya bergabung, akan ditempatkan di tim yang mengurus produk rokok dan otomotif.

HAHAHAHAHAHAHAHAHA.

Dalam hati saya, ironi macam apa ini Tuhan?

Sekuat tenaga saya melewati stan produk rokok dan otomotif yang wahh, jangan ditanya betapa bagusnya stan mereka di antara perusahaan lain. Kenapa saya malah bertemunya disinii?? Hah.

Tapi karena saya adalah manusia hipokrit dan harus menyeimbangkan idealisme dan realita, maka saat ada panggilan untuk offering letter (yang saya pikir tidak mungkin karena jelas saya menyampaikan keberatan), saya pun menandatangani kontrak yang diberikan.

Yep, i’m officialy a hypocrite crap.

Kenyataannya, kegelisahan hati saya tertutupi oleh euforia “akhirnya keterima kerja”. Dengan impulsif, saya juga langsung membeli tiket untuk pulang ke Medan demi memberitahu si mamak bahwa saya akhirnya mendapatkan pekerjaan.

Ohya, mungkin ada pertanyaan darimana saya mempunyai uang?

Dua tahun lalu saya membuat satu tabungan rencana dan berencana untuk memakai uang tersebut untuk travelling ke Sumba di Oktober 2016. Saya sudah cari open-trip yang mendapat banyak review bagus, saya membaca-baca pengalaman orang kesana, dan sudah saya bayangkan bahwa 2016 akan menjadi tahun “Explore East Indonesia”. Tapi apa daya, saya akhirnya menarik tabungan itu sebelum jatuh tempo untuk membiayai diri saya selama masa “in search“, lol.

Lanjut. Sesampainya di rumah, tentu saja ibu saya kaget karena memang tidak kuberitahukan kepulangan mendadak ini. Mamak pun memelukku dengan senang saat kukatakan anakmu ini telah mempunyai pekerjaan sekarang. Tapi euforia itu tidak berlangsung lama ketika pertanyaan-pertanyaan beliau kujawab dengan jawaban yang tidak sesuai dengan….

Ekspektasi.

Aku tidak bekerja di perusahaan besar yang diharapan mamakku adalah: MULTINASIONAL, NASIONAL TERKENAL, ATAU BANK.

Kusebutkan nama perusahaanku bekerja, tentu dia tidak tahu.

Kusebutkan besar pendapatanku nanti, semakin dia tidak setuju.

Ahh, inilah ketika realita tidak sejalan dengan ekspektasi.

 

Jakarta, 17 Mei 2016

Rin – Celoteh.Inang

 

 

 

New Start

…..

yeah,

Blog baru, awal baru.

Bukan pemalu, terkadang bisu

Si inang ini terkadang suka juga banyak bicara

Apalagi bila bertemu lawan bertutur yang mempesona

 

Halah, sudah cukuplah basa-basi sok berima itu

Segeralah penuhi situs pribadimu ini…

Hal-hal kesukaan para generasi merundu(k)

Juga pikiran rancu dan resah pribadi

 

Depok, 9 April 2016

Rin – Celoteh.Inang